JANGAN REMEHKAN ARUS BAWAH

Tidak lama berselang setelah menulis artikel bertajuk #ARUS, saya langsung dihubungi beberapa kolega lewat jaringan pak Pri (Japri). Salah satunya guru SMAN 3 Bojonegoro, Susanto Zuzanto. “Jangan remehkan arus bawah! ,” tulisnya.

Sejarah menunjukkan, kekuatan arus bawah memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejumlah tokoh besar jatuh karena tidak mampu membendung desakan arus bawah. Di Rusia, misalnya. Keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia I membuat rakyat tidak puas terhadap Tsar Nicholas II. Revolusi pecah (1905). Tsar dipaksa turun dari tahtanya oleh rakyat yang tidak puas dan mendukung gerakan Bolshevik pimpinan Vladimir Illic Lennin

Di Perancis diktator Louis XIV mengagungkan sistem monarki absolut . “La Etat C’est Moi!” semboyannya. Etats Generaux dibekukan. Rakyat sebagai simbol arus bawah tidak puas. Revolusi berkobar. Penjara Bastille sebagai simbol kekuasaan raja diserbu. Raja Louis pun menghadapi eksekusi mati lewat pemenggalan kepala dengan guillotine.

Di negeri sendiri pernah ada reformasi 1998. Mahasiswa yang merupakan representasi kekuatan arus bawah mendesak Presiden Suharto lengser keprabon. Penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu pun mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Lantas bagaimana menyikapi kekuatan arus bawah? Seperti yang artikel yang saya tulis kemarin. #ikuti_arus. Aspirasi arus bawah harus diakomodir. Suara arus bawah harus didengar. Regulasi atau keputusan akan lebih baik dan bijak jika berawal dari arus bawah. Bukan top-down. Mengikuti arus bawah berarti menjalankan amanahnya.

#Pelajari_Arus. Mempelajari arus bawah berarti menjajaki kemauan dan aspirasi arus bawah. Dengan mengetahui kulturnya, kehadiran kita akan mudah diterima. Di kandang macan harus bisa mengaum dan di kandang kambing harus mengembik. Jangan mengaum di kandang kambing dan jangan pula mengembik di kandang macan.

#Tentukan_Arus. Setelah mengetahui kebiasaan dan kemauan arus bawah, selanjutnya menentukan, regulasi, keputusan, kebijakan dan strategi yang tepat terhadap arus bawah. Hal ini sangat urgen agar ada harmonisasi antara kebijakan dengan kehendak rakyat.

#Bentuk_arus. Membentuk arus berarti membuat regulasi, agreement. Semua harus merupakan keputusan bersama. Idealnya harus pro arus bawah. Sehingga ketika terjadi persoalan, pendekatan yang digunakan win-win solution. Bukan menang-kalah.

Saya sepakat dengan Susanto. Jangan remehkan arus bawah. Ia laksana daun yang kering. Mudah terbakar. Sekali diremehkan dia bisa menjelma menjadi kobaran api yang sewaktu-waktu melalap semua yang ada di sekelilingnya.

Kalau ada yang salah karena menyajikan revolusi Rusia, Perancis dan reformasi 1998 sebagai pengantar dalam tulisan ini, maafkan saya. (*/)

About Priyandono Hanyokrokusumo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *